BAGI BACA mumpung bisa

Perintah pertama di dalam Al-Qur'an yaitu "Iqra" artinya baca. Baca tidak hanya dibatasi dengan membaca tulisan atau buku, tapi baca keadaan, situasi, dll. sayangnya tidak semua orang punya kesempatan membaca, karena itu melalui blog ini saya mau berbagi baca.

11 May ’12
Herlindah Petir
0 comments

Liburan ke Bali

Perjalanan pertama, waktu itu kami ngajak umak. nggak terlalu kemana-mana kebanyakan stay di hotel aja. Jalannya ke Pantai Nusa 2, belanja di pasar Sukowati dan makan malam di Jimbaran. seru banget. anak2 masih kecil. tepatnya kapan kesana, lupa, nanti tak lihat lagi buku diaryku (dari potonya kelihatannya 14 Maret 2011).  Setahun yang lalu lebih ya…

Aiqa dan Sierra...

nusa 2 Bali...

Bersama Umak di pantai Nusa 2 Bali (ayahnya kerja, meeting neng hotel)

Ahza dan Aiqa maen pasir

perjalanan pulang di kapal ferry dari Gilimanuk menuju ketapang Banyubangi

Continue Reading →

25 Apr ’12
Herlindah Petir
0 comments

Kartini’s Day

di Indonesia tiap tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Siapa Kartini? mengapa diperingati? apakah dia sebagai pahlawan? pejuang wanita? kalau pejuang atau pahlawan, saya pikir dalam konteksnya Indonesia, dari berbagai wilayah punya pejuangnya sendiri. nah, mungkin kebetulan pada saat waktu itu pemerintah harus memilih tentunya dengan berbagai pertimbangan ekonomis, politis, historis dan sebagainya maka dipilihlah RA.Kartini.

terlepas berbagai kontroversi dan perdebatan diluar sana, yang ingin saya ceritakan adalah kaitannya langsung dengan perayaan hari kartini itu dilakukan di sekolah2.

kebetulan sekolah Ahza juga merayakannya dengan memakai baju adat atau profesi yang disukai. acara diadakan dengan berkeliling naik mobil pick-up yang dihiasi.  Ahza mestinya memakai baju profesi. rencananya memakai baju tentara. namun sayang, sebelum bajunya saya beli, dia menolak, ga mau jadi tentara. ya sudah kata ayahnya, kalau begitu jadi arsitek aja, nanti helmnya dipinjamkan ke temannya. dan apa yang terjadi? di pagi hari “H”nya, dia nggak mau pakai helmnya. dia pilih baju sehari-hari yang dia suka. celana panjang, baju kaos dan kemeja kotak2. bawa kacamata plus tabung kertas kalkir yang biasa digunakan oleh orang2 teknik.

sementara itu, kawan2nya  memakai baju adat dan profesi lainnya.

bu Gurunya sempat bingung, “Lho Ahza ga dapat undangan pemberitahuan ya?” kata ayahnya, sudah bu, ini dia sebagai arsitek. namanya anak2, naek mobil pick-up yang dihias seneng banget. lalu ayahnya denger Ahza kenalkan profesi dia, “Ahza Arkeolog, ini alat untuk mencari fosil dinosaurus…!” saya dikabari ayahnya, Subhanallah…berucap. memang sebaiknya ga mesti dipaksa, biarkan dia enjoy dan  menikmati peran profesi dia apa adanya…

Lalu di rumah Sidi (kakek dari ayah)nya bertanya, Arkeolog itu apa? saya bilang itu peneliti tentang benda-benda purbakala (bersejarah). sepertinya sidinya tidak terlalu bahagia mungkin dalam hatinya berpikir, profesi apa itu.. saya jelaskan lagi bahwa untuk saat ini, profesi ini memang belum seberapa dikenal orang. tapi diluar negeri khusunya negara maju sudah. sebab di indonesia, kita masih sibuk memikirkan bagaimana biaya makan dan sekolah…mungkin di masa Ahza nanti keadaan kita sudah berubah. semoga saja….

Siangnya, saya bersama mahasiswa melakukan penyuluhan hukum tentang Pendaftaran Tanah di desa PohGajih Kecamatan selorejo, Kabupaten Blitar. warga yang hadir juga banyak ibu-ibunya lho.. senangnya bisa berbagi pengetahuan hukum bersama mereka.

Harapan saya, di hari RA.Kartini tahun depan saya bisa lebih maksimal lagi berbagi ilmu dengan orang-orang yang membutuhkan lainnya. Ingat, Kaya=Ada di saat kita harus memberi. Bisa memberi berarti kaya, saya ingin jadi orang kaya dan bisa memberi pada semua orang yang membutuhkan. Aamiin YRA

4 Apr ’12
Herlindah Petir
0 comments

Butuh Advise

Pertengahan Maret 2012 kemaren, Ahza Anakku yang pertama mengikuti tes masuk SD yaitu di sekolah Islam negeri favorite di Malang ini. Hasilnya dia TIDAK DITERIMA. kecewa juga sih, tapi bersama dia ada banyak ratusan anak-anak lainnya yang tidak di terima. bayangkan yang akan diterima tidak sampai 200 yang ikut tes ada 460 anak. sungguh ketat persaingannya. lalu, kami ikutkan lagi dia tes di sekolah islam tetapi swasta di daerah Belimbing, di sini full day school dari jam 6.40 pagi sampai jam 15.30 sore. hasilnya, TIDAK LULUS. kalau disini, quota yang diterima sekitar 140 anak, 60 sudah otomatis dari TKnya, sementara yang akan diterima melalui tes 80 anak lagi. tapi hasilnya begitu.. dari tes itu ada bahasa 1 dan 2, menghitung dan menganalisa. Total nilai ideal adalah 240, untuk diterima minimal 197. sementara Ahza nilainya 123. Jauh banget khan! nilai hitungnya 0, pastilah dia tidak mengerjakan sama sekali. pagi itu ketika mau berangkat tes, dia pada kondisi yang tidak mood, kurang tidur dan rewel.

judul tesnya, Tes Kesiapan Belajar Anak. kalau dilihat tes dan hasilnya, itu bukan kesiapan tapi beneran sudah bisa atau tidak (red). Tapi sudahlah, mungkin ini konsekwensi dari persaingan yang ketat, sehingga memreka harus memutuskan dengan pemilihan melalui hasil tes seperti itu. 2 kali hasi tes itu, sama sekali kami tidak heboh di depan dia. sebab, sangat tidak masuk akal kalau menyimpulkan dia pintar atau bodoh melalui hasil tes yang sangat singkat dan tiba2 baginya.

sebenarnya, apa yang hendak saya sampaikan disini adalahperasaan galau dan kebingungan yang kami hadapi saat ini perihal “mencari” sekolah yang tepat untuk anak. Mencari? bukankah saat ini yang terjadi adalah “dicari” atau sekolah yang mencari anak. dimana letak kita “mencari”. artikel, buku dan grup jaringan sosial, semuanya menganjurkan agar tidak memaksa anak untuk belajar, agar kita mencari sekolah yang tepat untuk anak dan sebagainya tapi kalau melihat dengan proses seperti ini bukannya jadi TERBALIK?!

saat ini saya butuh advice tentang:

bagaimana melihat permasalahan ini dan bagaimana jalan keluarnya? advice yang diinginkan, buka sekedar info sekolah2 alternatif tapi juga banyak hal. mulai dari pertimbangan sikon Ahza sendiri, karakter dasar dia, usianya saat ini apakah sudah tepat untuk sekolah SD, sikon saya dan ayahnya yang banyak di luar rumah. sistem pengajaran yang bagaimana yang tepat. cara pandang tentang fasilitas pendidikan di sekolah dan sebagainya.

Kemaren sore, ketika saya silah ukhuwah ke rumah tetangga dekat rumah, saya mendapat referensi yaitu di sekolah tempat anaknya sekarang ini. mereka punya kurikulum sendiri. memang mengikuti standard diknas tapi urutan pemberiannya yang berbeda. untuk kelas satu, mereka tidak prioritaskan calistung tapi skill mendengar dan exporingnya dahulu. hitung tetap diajarkan tetapi tidak letterlijk. sedangkan bahasa inggris sendiri baru diajarkan kelas 4 SD. hanya memang untuk SD baru tahun kedua. dan fasilitasnya masih sangat minim. sekolah ini termasuk homeschooling, karena orang tua juga ikut menjadi guru anak di rumah. tiap minggu ada mini parenting dan tiap bulan ada kelas parenting secara seluruh. kita di supervisi dari sekolah bagaimana mengarahkan anak-anak di rumah.

Mendengar visi-misi serta program yang ditawarkan cukup menarik. hanya yang menjadi keraguan saya, saya kadang banyak kerja di luar rumah. dapatkah saya menjalankan programnya? lalu fasilitas pendidikan yang minim apa bisa memenuhi kebutuhan dasar anak dalam pendidikan SD? lalu ini masalah subjektif, amat subjectif, tapi boleh dong sedikit diungkapkan… sekolah ini dikelola dan ortu siswanya kebanyakan dari satu kominiti muslim, yang saya agak takut nanti saya akan berada pada situasi berulang saat saya masih kuliah di Bandung dulu….

dalam rangka proses Ahza akan sekolah ini, dalam sholat wajib maupun sunnah, saya selalu berdoa pada Allah agar ditunjukkan jalan yang terbaik untuk masa depan anak kami. saya sendiri, sangat meyakini Allah mendengar doa-doa saya itu dan Allah sudah memberi pentunjuk dengan banyak cara. dan biasanya saya selalu mencari “sign-sign” itu dari-Nya. apakah mungkin, 2x tes Ahza ga lulus, lalu dapat info dari tenangga dsb itu semua adalah pentunjuk-Nya. sungguh saya butuh pentujuk-Nya yang lainnya.

31 Mar ’12
Herlindah Petir
0 comments

Menyapih Sierra

Malang, 31 maret 2012

Sierra bobo dengan mba Sri di kasur yang dibentang depan tivi. Dasternya tersingkap sedikit sehingga diaper yang dia pakai kelihatan sedikit. Duh, rasanya ingin kupeluk erat dan kuciumi dia. Tapi sayang, itu belum bisa kulakukan saat ini. Maafkan bunda ya nak..maafkan bunda harus menyapihmu lebih awal dari rencana sebelumnya. Niatku sebelumnya, Sierra akan kusapih minimal usia 2 tahun, usia pemberian ASI yg sangat dianjurkan. Kini usiamu baru 1,5 tahun, tapi bunda sudah menyapihmu. Ada beberapa pertimbangan.
Pertama, karena gigi Sierra yang mulai banyak, kamu sering menggigit. Dan itu sangat menyakitkan, sampai-sampai lecet dan perih sekali. 
Kedua, mimi bagi Sierra sepertinya bukan lagi kebutuhan utamanya untuk mendapatkan ASI tapi sudah suatu cara Sierra untuk merasa dapat perhatian dariku. Mungkin dia pikir, kalau tidak sedang mimi, bunda tidak akan memperhatikan dia. Bukannya apa-apa, kalau siang ketika aku di rumah, aku malah sama sekali tidak bisa melakukan pekerjaan lainnya. Kerjaan Sierra cuma ngentol aja… Refotnya, dia maunya sambil “mentil” alias minta dibuka semua, satu dimulutnya dan satu lagi dia pegang dan tarik-tarik. MasyaAllah, selain malu dilihat orang-orang dalam rumah seperti mbak dan kakaknya juga rasanya sakit sekali, bayangkan rasa perih karena lecet tersebut!
Ketiga, bila malam tiba, kegiatan mentilnya makin jadi. Sehingga, efeknya ganggu keseimbangan bunda. Bunda jadi masuk angin karena bagian dada terbuka terus semalaman. Bunda juga sering salah urat dan menderita nyeri punggung akibat posisi tidur yang tidak nyaman. Bunda jadi kurang tidur karena tidak nyaman dengan situasi tersebut. Akibatnya sering menderita migrain. Sering ngantuk yang luar biasa disiang hari. Efeknya lagi meresa tidak enak badan dan tidak fit sepanjang hari. Dampaknya, bunda tidak bisa lakukan pekerjaan secara maksimal. Termasuk pekerjaan domestik alias rumah tangga, termasuk di dalamnya mengurus keluarga yang artinya ngaruh ke Sierra juga.

Sementara itu, sebagai ibu dimana pekerjaannya adalah dosen, bunda dituntut untuk terus meningkatkan dan mengembangkan ilmu dan skill. Permasalahan dan ilmu pengetahuan itu sendiri kini semakin kompleks, kalau tidak bunda akan ketinggalan jauh dan terpinggirkan secara alami.  Parahnya, bunda nanti bukannya memberikan kontribusi malah memberatkan dan menjadi beban di dalam institusi tempat bunda bekerja. Naudzubillah minzalik, amit-amit, jauh-jauh.. *sambil ketok-ketok meja.
Selain kewajiban kerja mengajar, ada 2 bidang lainnya yang harus bunda lakukan secara seimbang yaitu penelitian dan pengabdian masyarakat. Dan aturan-aturan teknis yang ada saat ini, sudah sangat memaksa yang mau tidak mau, suka tidak suka bunda harus lakukan demi standar itu…
Karena itu, tindakan menyapih ini mau tak mau harus dilakukan. Kata orang-orang, paling lama seminggu nangis-nangisnya habis itu nggak lagi. Terus terang, ini pengalaman pertamaku. Sebelumnya waktu Aiqa, rasanya tidak sesulit ini. Waktu tahu aku sudah hamil lagi, Aiqa seperti nyadar sendiri, dia tidak memaksa harus mimi everytime. Seolah dia pasrah, terserah bunda kapan bunda mau kasih. Tapi begitulah, tiap anak memang unik. Mereka punya cara dan kebiasaan tersendiri.
Well, demi kebaikan bersama, tindakan menyapih ini harus kulakukan. Percayalah, tanpa mentil terus, bunda kan tetap selalu sayang Sierra.

Note: saat ini Sierra bobo sama mbak Sri di luar kamar karena nanti pas dia nangis-nangis malah ganggu tidur yang lain. Sayangnya, saat ini belum ada kamar kosong lainnya.

Salam,
Bunda

17 Mar ’12
Herlindah Petir
Comments Off

Tes..tes..tes…

Hari ini Ahza mengikuti tes untuk sekolah SD. Ini adalah tes pertamanya, semoga dia semangat dan percaya diri. Karena dia tadi saltum, alias salah kostum. Semestinya memakai baju bebas, tapi karena ayahnya salah denger, yang didenger, kedengerannya harus memakai seragam sekolah. Di dalam jadwalnya, tesnya berlangsung selama 1 jam, ini kok sudah hampir 2 jam tapi belum juga selesai * bingung, tes mau masuk SD aja segini lamanya…emang di tes kayak apa sih?
Sebagai ortu, kami hanya ingin yang terbaik buat Ahza. Kami tidak ingin dia belajar di bawah tekanan dan stres sehingga malah kontrakproduktif. Ada 6 hal yang diharapkan dari proses dia sekolah di SD ini:
Pertama, dia enjoy alias menikmati proses belajar di sekolah. Dia adalah anak yang aktif, suka sekali menggambar dan baca buku yang dia suka. Aktif disini bukannya banyak gerak tetapi keaktifan yang statis. Dia bisa melakukan suatu hal secara terus-menerus, asalkan hal tersebut menarik baginya. Kalau diperhatikan, dia adalah type anak yang belajar secara visual. Dia lebih cepat menangkap suatu pelajaran bila digambarkan atau divisualisasikan. Nah, untuk itu sekolah mana yang kualified yang bisa sesuai dengannya.
Kedua, dia bisa menjadi anak yang mandiri dan bahkan bisa melakukan banyak hal untuk orang lain. Dalam artian, dia tidak hanya disibukkan dengan hal-hal yang terfokus untuk memnuhi kebutuhan dirinya sendiri tetapi lebih dari itu. Dengan kata lain, dia sudah selalu selesai dengan urusan untuk dirinya sendiri. Karena itu dia punya banyak waktu dan hal yang bisa dia berilakan dan laukan untuk orang lain. Adakah sekolah yang bisa mendidiknya menjadi seperti ini?
Ketiga, dia bisa menjadi anak yang kreatif dalam hal belajar maupun memecahkan segala macam permasalahan yang dia maupun lingkungan sekitarnya hadapi.
Ke-empat, dia dapat menjadi tuan bagi dirinya sendiri, tau yang baik dan buruk untuk dirinya sendiri. Dalam artian, dia mempunyai prinsip atau karakter yang kuat. Prinsip yang mana? Ya prinsip sebagai seorang muslim.
Ke-lima, dia menjadi orang yang mencintai ketertiban dan keadilan. Dia mau dan dengan senang hati mengikuti sebuah aturan aturan dan rule bukan karena ketakutan, tapi karena dia tau tujuannya.
Ke-enam, dia bisa melakukan kemampuan dasar secara baik. Membaca, menulis, berhitung dan melakukan ibadah serta amalan kehidupan sehari-hari. That’s all. Kelihatannya sedikit ya…. Tapi sungguh tidak mudah. Akankah semua ini kami serahkan dan gantungkan pada sekolah? Sepertinya tidak juga. Jangan biarkan, anak kita menjadi korban oleh standard-standard akademik yang sama sekali tidak ngaruh dengan kehidupannya kelak. Ini kata Ayah Edy di facebook kemaren.
Sebagai ibu, terus terang hati ini kebat-kebit. Di satu sisi ingin lalukan apa yang seperti ayah Edy katakan tapi di sisi lain, standar sosial bicara lain. Berdasarkan hasil bincang-bincang dan investigasi ringan yang kami lakukan kemaren, ada beberapa sekolah SD yang jadi referensi most..di Kota Malang, yaitu Min 1 Malang, SDI Sabilillah, SD N Kauman 1, SD N Dinoyo 2 dan SD Lab UM.
Saat ini, Ahza mengikuti tes di Min 1 Malang. Aneh juga, seingatku waktu aku mau masuk SD N 2 Tulung Selapan, sama sekali tidak ada tes seperti ini. Semua terasa ringan dan indah. Yang ada hanyalah perasaan deg-deg dan penasaran akan punya teman-teman dan guru yang baru, yang paling menyenangkan yaitu punya seragam sekolah baru…
Kini keadaan telah berubah, anak SD saja pakai tes begini? Tapi toh ini juga pilihan. Masih ada juga kok sekolah lain tanpa tes dan biayanya lebih murah. Tapi beginilah, sekolah kini bukan lagi tempat anak untuk bermain dan belajar tentang kehidupan, kini sudah dijadikan ukuran ‘prestige’ di dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam diri ini, selalu saja terjadi percakapan antara hati dan pikiran. Semoga hati dan pikiran tidak bertentangan tetapi saling mengisi dan melengkapi satu sama lain…sehingga dapat jalan terbaik  untuk Ahza.

Salam,
Bunda loves Ahza