4 Apr ’12
Herlindah Petir
0 comments
Pertengahan Maret 2012 kemaren, Ahza Anakku yang pertama mengikuti tes masuk SD yaitu di sekolah Islam negeri favorite di Malang ini. Hasilnya dia TIDAK DITERIMA. kecewa juga sih, tapi bersama dia ada banyak ratusan anak-anak lainnya yang tidak di terima. bayangkan yang akan diterima tidak sampai 200 yang ikut tes ada 460 anak. sungguh ketat persaingannya. lalu, kami ikutkan lagi dia tes di sekolah islam tetapi swasta di daerah Belimbing, di sini full day school dari jam 6.40 pagi sampai jam 15.30 sore. hasilnya, TIDAK LULUS. kalau disini, quota yang diterima sekitar 140 anak, 60 sudah otomatis dari TKnya, sementara yang akan diterima melalui tes 80 anak lagi. tapi hasilnya begitu.. dari tes itu ada bahasa 1 dan 2, menghitung dan menganalisa. Total nilai ideal adalah 240, untuk diterima minimal 197. sementara Ahza nilainya 123. Jauh banget khan! nilai hitungnya 0, pastilah dia tidak mengerjakan sama sekali. pagi itu ketika mau berangkat tes, dia pada kondisi yang tidak mood, kurang tidur dan rewel.
judul tesnya, Tes Kesiapan Belajar Anak. kalau dilihat tes dan hasilnya, itu bukan kesiapan tapi beneran sudah bisa atau tidak (red). Tapi sudahlah, mungkin ini konsekwensi dari persaingan yang ketat, sehingga memreka harus memutuskan dengan pemilihan melalui hasil tes seperti itu. 2 kali hasi tes itu, sama sekali kami tidak heboh di depan dia. sebab, sangat tidak masuk akal kalau menyimpulkan dia pintar atau bodoh melalui hasil tes yang sangat singkat dan tiba2 baginya.
sebenarnya, apa yang hendak saya sampaikan disini adalahperasaan galau dan kebingungan yang kami hadapi saat ini perihal “mencari” sekolah yang tepat untuk anak. Mencari? bukankah saat ini yang terjadi adalah “dicari” atau sekolah yang mencari anak. dimana letak kita “mencari”. artikel, buku dan grup jaringan sosial, semuanya menganjurkan agar tidak memaksa anak untuk belajar, agar kita mencari sekolah yang tepat untuk anak dan sebagainya tapi kalau melihat dengan proses seperti ini bukannya jadi TERBALIK?!
saat ini saya butuh advice tentang:
bagaimana melihat permasalahan ini dan bagaimana jalan keluarnya? advice yang diinginkan, buka sekedar info sekolah2 alternatif tapi juga banyak hal. mulai dari pertimbangan sikon Ahza sendiri, karakter dasar dia, usianya saat ini apakah sudah tepat untuk sekolah SD, sikon saya dan ayahnya yang banyak di luar rumah. sistem pengajaran yang bagaimana yang tepat. cara pandang tentang fasilitas pendidikan di sekolah dan sebagainya.
Kemaren sore, ketika saya silah ukhuwah ke rumah tetangga dekat rumah, saya mendapat referensi yaitu di sekolah tempat anaknya sekarang ini. mereka punya kurikulum sendiri. memang mengikuti standard diknas tapi urutan pemberiannya yang berbeda. untuk kelas satu, mereka tidak prioritaskan calistung tapi skill mendengar dan exporingnya dahulu. hitung tetap diajarkan tetapi tidak letterlijk. sedangkan bahasa inggris sendiri baru diajarkan kelas 4 SD. hanya memang untuk SD baru tahun kedua. dan fasilitasnya masih sangat minim. sekolah ini termasuk homeschooling, karena orang tua juga ikut menjadi guru anak di rumah. tiap minggu ada mini parenting dan tiap bulan ada kelas parenting secara seluruh. kita di supervisi dari sekolah bagaimana mengarahkan anak-anak di rumah.
Mendengar visi-misi serta program yang ditawarkan cukup menarik. hanya yang menjadi keraguan saya, saya kadang banyak kerja di luar rumah. dapatkah saya menjalankan programnya? lalu fasilitas pendidikan yang minim apa bisa memenuhi kebutuhan dasar anak dalam pendidikan SD? lalu ini masalah subjektif, amat subjectif, tapi boleh dong sedikit diungkapkan… sekolah ini dikelola dan ortu siswanya kebanyakan dari satu kominiti muslim, yang saya agak takut nanti saya akan berada pada situasi berulang saat saya masih kuliah di Bandung dulu….
dalam rangka proses Ahza akan sekolah ini, dalam sholat wajib maupun sunnah, saya selalu berdoa pada Allah agar ditunjukkan jalan yang terbaik untuk masa depan anak kami. saya sendiri, sangat meyakini Allah mendengar doa-doa saya itu dan Allah sudah memberi pentunjuk dengan banyak cara. dan biasanya saya selalu mencari “sign-sign” itu dari-Nya. apakah mungkin, 2x tes Ahza ga lulus, lalu dapat info dari tenangga dsb itu semua adalah pentunjuk-Nya. sungguh saya butuh pentujuk-Nya yang lainnya.